Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blogger Template From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 26 Maret 2012

Pembahasan SKL Agama 2012

A. Syarat Wajib Haji

Syarat wajib haji adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang sehingga dia diwajibkan untuk melaksanakan haji, dan barang siapa yang tidak memenuhi salah satu dari syarat-syarat tersebut, maka dia belum wajib menunaikan haji. Adapun syarat wajib haji adalah sebagai berikut :

1. Islam
2. Berakal
3. Baligh
4. Merdeka
5. Mampu

B. Rukun Haji

Yang dimaksud rukun haji adalah kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji, dan jika tidak dikerjakan hajinya tidak sah. Adapun rukun haji adalah sebagai berikut :

1. Ihram
Ihram, yaitu pernyataan mulai mengerjakan ibadah haji atau umroh dengan memakai pakaian ihram disertai niat haji atau umroh di miqat.

2. Wukuf
Wukuf di Arafah, yaitu berdiam diri, dzikir dan berdo'a di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah.

3. Tawaf Ifadah
Tawaf Ifadah, yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, dilakukan sesudah melontar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijah.

4. Sa'i
Sa'i, yaitu berjalan atau berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 Kali, dilakukan sesudah Tawaf Ifadah.

5. Tahallul
Tahallul, yaitu bercukur atau menggunting rambut setelah melaksanakan Sa'i.

6. Tertib
Tertib, yaitu mengerjakan kegiatan sesuai dengan urutan dan tidak ada yang tertinggal.

C. Wajib Haji

Wajib Haji adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji sebagai pelengkap Rukun Haji, jika salah satu dari wajib haji ini ditinggalkan, maka hajinya tetap sah, namun harus membayar dam (denda). Yang termasuk wajib haji adalah :

1. Niat Ihram, untuk haji atau umrah dari Miqat Makani, dilakukan setelah berpakaian ihram.

2. Mabit (bermalam) di Muzdalifah, pada tanggal 9 Zulhijah (dalam perjalanan dari Arafah ke Mina).

3. Melontar Jumrah Aqabah, pada tanggal 10 Zulhijah yaitu dengan cara melontarkan tujuh butir kerikil berturut-turut dengan mengangkat tangan pada setiap melempar kerikil sambil berucap, “Allahu Akbar, Allahummaj ‘alhu hajjan mabruran wa zanban magfura(n)”. Setiap kerikil harus mengenai ke dalam jumrah jurang besar tempat jumrah.

4. Mabit di Mina, pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah).

5. Melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah, pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah).

6. Tawaf Wada', yaitu melakukan tawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Mekah.

7. Meninggalkan perbuatan yang dilarang saat ihram.

B. Azas-Azas Transaksi dalam Ekonomi Islam

C. 1. Asas suka sama suka, yaitu kerelaan yang sebenarnya, bukan kerelaan yang bersifat semu dan seketika. Oleh karena itu, Rosulullah mengharamkan bai al garar (jual beli yang mengandung unsure spekulasi dan penipuan)
D.
E. 2. Asas keadilan, yaitu adanya keseimbangan, baik produksi, cara memperolehnya, maupun distribusinya.
F.
G. 3. Asas saling menguntungkan, yaitu tidak ada satu pihakk pun yang dirugikan.
H.
I. 4. Asas saling menolong dan saling membantu.

SYIRKAH
1. PENGERTIAN SYIRKAH
Syirkah, menurut bahasa, adalah ikhthilath (berbaur). Adapun menurut istilah syirkah (kongsi) ialah perserikatan yang terdiri atas dua orang atau lebih yang didorong oleh kesadaran untuk meraih keuntungan. Terkadang syirkah ini terbentuk tanpa disengaja, misalnya berkaitan dengan harta warisan. (Fathul Bari V: 129).
2. PENSYARI’ATAN SYIRKAH
Allah swt berfirman:
“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; dan amat sedikitlah mereka ini.” (QS Shaad: 24).
“Jika seorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu.” (QS An-Nisaa': 12)
Dari Saib ra bahwa ia berkata kepada Nabi saw, “Engkau pernah menjadi kongsiku pada (zaman) jahiliyah, (ketika itu) engkau adalah kongsiku yang paling baik. Engkau tidak menyelisihku, dan tidak berbantah-bantahan denganku.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 1853 dan Ibnu Majah II: 768 no: 2287).
3. SYIRKAH SYAR’IYAH (BENTUK KONGSI YANG DISYARATKAN)
Dalam kitabnya, as-Sailul Jarrar III: 246 dan 248, Imam Asy-Syaukani rahimahullah menulis sebagai berikut, “(Syirkah syar’iyah) terwujud (terealisasi) atas dasar sama-sama ridha di antara dua orang atau lebih, yang masing-masing dari mereka mengeluarkan modal dalam ukuran yang tertentu. Kemudian modal bersama itu dikelola untuk mendapatkan keuntungan, dengan syarat masing-masing di antara mereka mendapat keuntungan sesuai dengan besarnya saham yang diserahkan kepada syirkah tersebut. Namun manakala mereka semua sepakat dan ridha, keuntungannya dibagi rata antara mereka, meskipun besarnya modal tidak sama, maka hal itu boleh dan sah, walaupun saham sebagian mereka lebih sedikit sedang yang lain lebih besar jumlahnya. Dalam kacamata syari’at, hal seperti ini tidak mengapa, karena usaha bisnis itu yang terpenting didasarkan atas ridha sama ridha, toleransi dan lapang dada.”
Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 687 - 689.
Kewajiban Menegakkan Khilafah

(Tafsir QS al-Baqarah� [2]: 30)

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي اْلأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 30).


Tafsir Ayat

Allah Swt. berfirman: Wa idz qâla Rabbuka li al-malâikah (Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat). Huruf idz merupakan zharf az-zamân (kata keterangan) untuk menunjukkan waktu lampau.[1] Dalam konteks kalimat ini, huruf tersebut menyimpan kata udzkur (ingatlah). Khithâb-nya ditujukan kepada Rasulullah saw. Ini terlihat pada dhamîr mukhâthab ka pada kata Rabbuka yang menunjuk kepada beliau. Karena itu, Ibnu Katsir, al-Wahidi dan beberapa mufassir lain memaknainya: Ingatlah, wahai Muhammad, ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat.[2] Seruan kepada Rasulullah saw. berarti juga seruan kepada umatnya.

Perkara yang diperintahkan untuk diingat adalah kisah awal kejadian manusia. Sebelum menciptakan manusia, Allah Swt. terlebih dulu memberitakannya kepada para malaikat. Kata al-malâikah merupakan bentuk jamak dari kata al-malak.

Kepada para malaikat itu Allah Swt. berfirman: Innî jâ’il[un] fî al-ardhi khalîfah (Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi). Kata jâ’il[un] bermakna khâliq[un].[3] Adapun al-ardh adalah seluruh bumi yang kini ditempati manusia. Di situlah Allah Swt. akan menjadikan khalîfah.

Kata khalîfah berasal dari kata khalîf (wazan fa‘îl). Tambahan huruf al-hâ’ berfungsi li al-mubâlaghah (untuk melebihkan).[4] Kata khalîfah berarti suatu pihak yang menggantikan lainnya, menempati kedudukannya, dan mewakili urusannya. Secara bahasa, seluruh mufassirin sepakat, yang dimaksud dengan khalîfah di sini adalah Adam as.[5] Namun, di antara mereka terdapat beberapa pendapat:� khalîfah bagi siapakah Adam itu?

Pertama: khalîfah bagi jin atau banû al-jân.[6] Alasannya, sebelum manusia diciptakan, penghuni bumi adalah banû al-jân. Namun, karena mereka banyak berbuat kerusakan, Allah Swt. kemudian mengutus para malaikat untuk mengusir dan menyingkirkan mereka. Setelah mereka berhasil disingkirkan sampai di pesisir dan gunung, Adam as. diciptakan untuk menggantikan kedudukan dan posisi mereka.

Kedua: khalîfah bagi malaikat. Demikian pendapat asy-Syaukani, an-Nasafi, dan al-Wahidi.[7] Sebab, setelah berhasil menyingkirkan banû al-jân, malaikatlah yang tinggal di bumi. Karena itu, yang digantikan Adam as adalah malaikat, bukan jin atau banû al-jân.

Ketiga: disebut khalîfah karena mereka menjadi kaum yang sebagiannya menggantikan sebagian lainnya. Di antara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Katsir.[8] Pendapat ini didasarkan pada QS al-An‘am: 165, an-Naml: 62, az-Zukhruf: 6, dan Maryam 59.[9]

Keempat: menjadi khalîfah bagi Allah di bumi untuk menegakkan hukum-hukum-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya. Pendapat ini dipilih oleh al-Baghawi, al-Alusi, al-Qinuji, al-Ajili, Ibnu Juzyi, dan asy-Syanqithi.[10] Status ini bukan hanya disandang Adam as., namun juga seluruh nabi. Mereka semua dijadikan sebagai pengganti dalam memakmurkan bumi, mengatur dan mengurus manusia, menyempurnakan jiwa mereka, dan menerapkan perintah-Nya kepada manusia.[11] Menurut al-Qasimi, kesimpulan ini didasarkan pada QS Shad: 26.

Di antara keempat penafsiran itu, penafsiran keempat tampaknya lebih dapat diterima. Penafsiran ketiga, meskipun tak bertentangan dengan fakta kehidupan, respon malaikat menunjukkan, kedudukan khalifah tak sekadar itu. Menurut para malaikat, khalifah di muka bumi itu haruslah ahl al-thâ‘ah, bukan ahl al-ma‘shiyyah. Jika kedudukan sebagai khalifah hanya merupakan siklus kehidupan, generasi digantikan dengan generasi berikutnya, tentu tak mengharuskan khalifah dari kalangan ahl al-thâ‘ah.

Alasan yang sama juga dapat digunakan untuk menolak penafsiran pertama dan kedua jika peristiwa itu benar-benar terjadi. Sebagai catatan, penafsiran pertama dan kedua didasarkan pada hadis mawqûf yang tidak dapat menghasilkan keyakinan.� Dalam frasa berikutnya disebutkan: Qâlû ataj’alû fîhâ man yufsidu fîhâ wa yafsiku dimâ’ (Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan [khalifah] di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.”).

Kata fasâd berarti kerusakan. Kerusakan di bumi itu adalah kekufuran dan segala tindakan maksiat.[12] Adapun yang dimaksud dengan menumpahkan darah adalah pembunuhan yang dilakukan tanpa alasan yang dibenarkan syariah. Sebenarnya, pembunuhan secara zalim itu termasuk dalam cakupan fasâd atau kerusakan. Disebutkannya secara khusus setelah ungkapan umum (athf al-khâsh ’alâ al-’âmm) itu menunjukkan besarnya maksiat dan kerusakan yang ditimbulkan akibat pembunuhan.

Dari manakah para malaikat mengetahui sifat-sifat buruk manusia itu, padahal manusia belum diciptakan? Pengetahuan itu berasal dari: pemberitahuan Allah Swt.; bisa pula dari al-lawh al-mahfûzh; berdasarkan analogi terhadap sifat banû al-jân yang sebelumnya menghuni bumi;[13] bisa juga dari pemahaman mereka terhadap tabiat basyariyyah, yang sebagiannya telah diceritakan Allah Swt.—bahwa mereka diciptakan dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk (QS al-Hijr: 26); atau� dari pemahaman mereka dari kedudukan khalifah yang bertugas menyelesaikan kezaliman yang terjadi di antara manusia dan mencegah manusia dari perkara haram dan dosa.[14]� � � �

Selanjutnya mereka juga berkata: wa nahnu nusabbihu bihamdika wanuqaddisu laka (padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau?). Ber-tasbîh kepada Allah Swt. berarti mensucikan-Nya dan menjauhkan-Nya dari segala sesuatu yang buruk dalam kerangka ta‘zhîm.[15] Adapun men-taqdîs-kan Allah Swt. bermakna mensucikan-Nya dan menjauhkan segala sesuatu yang tidak pantas dari-Nya.[16]

Patut dicatat, para mufassir sepakat bahwa pertanyaan para malaikat itu bukan dimaksudkan untuk membantah kehendak Allah Swt. atau dilandasi sikap hasud terhadap Adam as. Sebab, mereka adalah hamba Allah yang mulia, taat, dan tidak pernah membangkang perintah-Nya (QS at-Tahrim: 6; al-Anbiya’: 26-27). Perkataan mereka semata-mata bertujuan untuk meminta kejelasan atau untuk mengungkap hikmah tersembunyi di balik penciptaan itu.[17]�

Allah Swt. menjawab pertanyaan malaikat itu: Innî a’lamu mâ lâ ta’lamûn (Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui). Artinya, Allah lebih mengetahui kemaslahatan yang râjih pada penciptaan itu. Sesungguhnya Dia akan mengutus para rasul di tengah-tengah manusia. Di antara mereka juga ada orang-orang yang membenarkan (ash-shiddiqûn), syahid, shalih, ahli ibadah, zuhud, wali, berbuat kebajikan, al-muqarrabûn, ulama � al-‘âmilûn, khusyuk, mencintai Allah, dan mengikuti rasul-rasul-Nya.[18]� � �

Kewajiban Menegakkan Khilafah

Sebagaimana telah terungkap, kedudukan sebagai khalîfah mewajibkan manusia untuk memutuskan dan menerapkan perkara-perkara kehidupan dengan hukum-hukum Allah Swt.

Untuk keperluan itu, Allah telah mengutus para nabi dan rasul. Mereka semua diutus untuk menyampaikan kepada manusia risalah-Nya yang juga berisi hukum-hukum yang wajib diterapkan. Kendati dalam perkara akidah semua nabi dan rasul itu sama, yakni akidah tauhid, dalam perkara hukum mereka diberikan syir’ah dan minhâj yang berbeda-beda (QS al-Maidah [5]: 48). Masing-masing nabi dan rasul beserta umatnya wajib terikat dengan hukum yang berlaku buat mereka. Tatkala mereka menerapkan dan memutuskan hukum berdasarkan syariah-Nya, maka mereka telah melaksanakan tugasnya sebagai khalîfah.

Kepada Nabi Muhammad saw., Allah telah memberikan dîn Islam. Sebagai dîn paripurna, Islam memiliki syariah yang syâmil kâmil (komprehensif lagi sempurna) (lihat QS an-Nahl [16]: 86 dan al-Maidah [5]: 3). Tidak ada satu pun aspek kehidupan yang dibiarkan lepas begitu saja, tanpa diatur oleh Islam. Seluruh interaksi manusia, baik dengan Tuhannya, dirinya sendiri, maupun antar sesama manusia diatur oleh Islam.

Seluruh hukum Islam wajib diterapkan (QS al-Maidah: 49, al-Hasyr: 7). Hanya saja, di antara hukum-hukum syariah itu: Pertama, ada yang pelaksanaannya dibebankan kepada individu seperti akidah, ibadah, makanan, pakaian, dan akhlak. Beberapa hukum mu’âmalah pelaksanaannya juga dapat dilaksanakan individu tanpa harus melibatkan negara seperti perdagangan, ijârah, pernikahan, warisan, dan sebagainya). Kedua, ada yang pelaksanaannya dibebankan kepada negara semisal sistem pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan dan politik luar negeri; juga berkaitan dengan hukum-hukum yang berkaitan dengan sanksi yang diberikan atas setiap bentuk pelanggaran hukum syariah. Hukum-hukum seperti tidak boleh dilakukan oleh individu. Semua hukum harus dilakukan oleh khalifah atau yang diberi wewenang olehnya.

Berdasarkan fakta ini, keberadaan negara merupakan sesuatu yang bersifat dharûrî (sangat penting) untuk melaksanakan Islam. Tanpa ada sebuah negara, mustahil syariah bisa diberlakukan secara total.

Patut ditegaskan, negara yang ditetapkan Islam untuk menerapkan syariah adalah Khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah. Rasulullah saw. bersabda:

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

Di tengah-tengah kalian terdapat masa kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada masa Khilâfah ’alâ minhâj al-nubuwwah. (HR Ahmad).

Rasulullah saw. juga menetapkan, para khalifah adalah satu-satunya pihak yang bertugas mengatur dan mengurusi umatnya setelah Beliau wafat:�

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ

Dulu Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap nabi meninggal, nabi lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku. Akan tetapi, nanti akan ada banyak khalifah (HR al-Bukhari dan Muslim).

Khalifah itulah yang diwajibkan untuk diangkat dengan jalan baiat. Dengan adanya khalifah, kewajiban adanya baiat di pundak setiap Muslim dapat diwujudkan. Sebaliknya, jika tidak ada khalifah, baiat yang diwajibkan itu tidak ada di pundak setiap kaum Muslim. Rasulullah saw. mencela keadaan tersebut dengan menyebut para pelakunya mati jahiliah. Beliau bersabda:

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّة

Siapa saja yang mati, sementara di atas pundaknya tidak ada baiat, maka matinya dalam keadaan jahiliah. (HR Muslim).

Bertolak dari pemikiran ini, tak mengherankan jika al-Qurthubi menyatakan, ayat ini menjadi asal atau pokok bagi wajibnya mengangkat imam dan khalifah yang didengar dan ditaati, untuk menyatukan kalimat, dan menerapkan hukum-hukum khalifah.[19] Pendapat ini juga didukung az-Zuhaili.[20] Mereka menegaskan, seluruh ulama sepakat tentang wajibnya mengangkat khalifah di antara umat dan para imam. Menurutnya, hanya Abu Bakr al-Asham dari kalangan Muktazilah saja yang menyimpang dari pendapat tersebut.

Di samping ayat ini, kedua mufassir itu juga mendasarkan pada QS Shad: 26 dan QS an-Nur: 55. Para Sahabat juga berijmak untuk mengangkat Abu Bakar al-Shiddiq setelah perselisihan kaum Muhajirin adn Anshar di Saqifah Bani Saidah.[21]

Walhasil, Khilafah wajib ditegakkan. Setiap Muslim pun wajib turut berjuang� bahu-membahu menegakkan Khilafah yang menerapkan Islam dan menyebarkannya ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad.

Wallâh a‘lam bi ash-shawâb. [Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.]
Islam itu Indah
Selasa, 23 Agustus 2011
SURAH AZ-ZARIYAT, 51: 56 TENTANG TUGAS MANUSIA
Terjemahan Ayat :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.S. Az-Zariyat, 51: 56)
Kesimpulan isi kandungan Al-Qur'an Surah Az-Zariyat, 51: 56 adalah tentang pemberitahuan dari Allah SWT bahwa maksud atau tujuan diciptakan jin dan manusia ialah agar beribadah kepada-Nya.
Menurut pengertian bahasa kata ibadah berarti: taat, patuh, tunduk, dan menurut. Allah SWT menciptakan jin dan manusia agar beribadah kepada-Nya, maksudnya agar mentaati semua perintah-Nya dan menjahui semua larangan-Nya. Allah SWT berfirman:
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungan jawab)?”(Q.S. Al-Qiyamah, 75: 36)
Menurut Imam Syafi'i (150 H – 240 H) makna ayat tersebut adalah bahwa manusia tidak akan dibiarkan bebas berbuat sekehendak hatinya. Mereka diperintahkan untuk melaksanakan inti ibadah yakni mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Mereka yang mentaati perintah dan menjauhi larangan-Nya tentu akan mendapatkan pahala. Sebaliknya, mereka yang tidak mau melaksanakan perintah dan berbuat apa yang dilarang Allah SWT tentu akan mendapat siksa.
QS AN NAHL : 78 ANUGERAH ALLAH KEPADA MANUSIA
Posted by admin at 7:01 PM Thursday, December 8, 2011

QS AN NAHL : 78
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

78. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

KOSA KATA

Arti Lafadz Arti Lafadz
Telah mengeluarkan kamu sekalian أَخْرَجَكُمْ Pendengaran اَلسَّمْعَ
Kamu mengetahuinya; kamu tahu تَعْلَمُوْنَ Penglihatan اَلْعَبْصَارَ
Menjadikan جَعَلَ - يَجْعَلُ Hati; akal budi أَلْأَفْئِدَةَ
Bagi kamu sekalian لَكُمْ Kamu bersyukur تَشْكُرُوْنَ

Ayat ini menurut Tafsir Al Maraghi mengandung penjelasan bahwa setelah Allah melahirkan kamu dari perut ibumu, maka Dia menjadikan kamu dapat mengetahuisegala sesuatu yang sebelumnya tidak kamu ketahui. Dia telah memberikan kepadamu beberapa macam anugerah berikut ini :
1. Akal; sebagai alat untuk memahami sesuatu,terutama dengan akal itu kamu dapat membedakan antara yang baik dan yang jelek, antar yng lurus dan yang sest, antara yang benar dan yang salah.
2. Pendengaran; sebagai alat untuk mendengarkan suara, terutama dengan pendengaran itu kamu dapat memahami percakapan diantara kamu.
3. Penglihatan; sebagai alat untuk melihat segala sesuatu, terutama dengan penglihatan itu kamu dapat saling mengenal diantara kamu.
4. Perangkat hidup yang lain; sehingga kamu dapat mengetahui jalan untuk mencari rizki dan materi lainnya yang kamu butuhkan, bahkan kamu dapat pula memilih mana yang terbaik bagi kamu dan meninggalkan mana yang jelek.
Semua yang di anugerahkan oleh Allah kepadamu tiada maksud lain kecuali supaya kamu bersyukur, artinya kamu gunakan semua anugerah Allah tersebut diatas semata-mata untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya yaitu :
a. يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ : mengekploitasi sebanyak-banyak karunia Allah yang tersebar di seluruh belahan bumi-Nya demi kemaslaahatan hidup umat manusia.
b. وَرِضْوَانًا : dan meraih keridlaan-Nya, karena dengan keridlaan-Nya itulah hidupmu menjadi semakin bermartabat.
Begitulah selaaknya yang harus dilakukan oleh setiap manusia sesuai tugas hidupnya sebagai hamba Allah dan khalifahnya di muka bumi.


PENDAPAT IMAM GHOZALI


Semua anugerah Allah yang disebutkan dalam Surat An Nahl : 78 pada hakekatnya hnya merupakan sebagian saja, karena secara global anugerah Allah itu dapat dipaparkan dalam 5 macam :
1. Hidayatul Gharizah : Yakni anugerah Insting, seperti halnya bayi menangis
karena pantasnya
2. Hidayatul Hawasy : Artinya anugerah Panca Indera
3. Hidayatul Aqli : Yakni anugerah Akal Pikiran.
4. Hidayatul Din : Artinya anugerah Petunjuk Agama.
5. Hidayatul Irsyad wa Taufiqi: Yakni anugerah Pengarahan dan Bimbingan.
Anugerah Petunjuk Agama belum bisa menjamin manusia mampu melaksanakan tugas hidupmya, karena petunjuk agama itu hanya disampaikan saja sehingga tergantung manusianya, maukah mengikuti petunjuk agama atau tidak. Karena itu, bagi manusia masih diperlukan lagi anugerah Pengarahan dan Bimbingan langsung dari Allah SWT.


PENDAPAT Prof. ENDANGSAIFUDDIN ANSHAR


Agar dapat melaksanakan tugas hidupnya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi, maka manusia telah diberi oleh Allah 3 macam anugerah :
1. Perangkat Hidup seperti disebutkan dalam Surat An Nahl : 78.
2. Perbekalan atau Perlengkapan Hidup berupa sumber daya alam.
3. Petunjuk Hidup berupa ajaran Al Qur’an dan Sunnah Rasul.


Jika meminjam istilah agama, maka anugerah Allah yang pertama dpat digolomgkan dalam istilah “ Nikmat Mauhibi “, artinya nikmat yang diberikn oeh Allah kepad manusia secara gratis dan tinggal pakai. Sementara anugerah Allah yang kedua dapat digolongkan dalam istilah “ Nikmat Kasabi “, yakni nikmat yang tidak diberikan secara gratis, sehingga manusia dituntut untuk memiliki daya saing yang tinggi agar dapat memperolehnya dengan sebanyak-banyaknya. Sejarah telah membuktikan bahwa bumi ini dalam bidang apapun pasti dikuasai oleh suatu bangsa yang SDM-nya jauh lebih tinggi dan penguasaan IPTEK-nya jauh lebih maju, sedangkan bangsa yang SDM-nya rendah dan tertinggal pasti menjadi jajahannya, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Adapun anugerah Allah yang ketiga dalamsatu sisi merupakan Nikmat Kasabi, karena manusia diberi hak memilih diantara mau mengikuti petunjuk hidup yang tertuang dalam ajaran Al Qur’an dan Sunnah Rasul atau menolaknya. Tetapi dalam sisi lain tergolong Nikmat Mauhibi, karena pemberian petunjuk hidup itu merupakan hak prerogatif Allah sehingga Rasulullah sendiri hanya diberi hak untuk menyampaikannya saja, bukan memberikannya.



KEJADIAN MANUSIA: QS AL MUKMINUN : 12-14 DAN HADISNYA (3)
• QS: ADZ-DZARIYAT 56 (2)
• QS: AL BAQARAH 30 -31 DAN (2)
• TUGAS HIDUP MANUSIA (2)




0 comments:
Post a Comment
Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

lihat link






Subscribe to our feed

PROGRAM DONASI


Labels
• DOWNLOAD X (1)
• HADIS (4)
• QURDIST KELAS X (7)
• SUNNAH (3)
• TAJWID (5)

Popular Posts
• TAJWID QS AL BAQARAH : 30 DAN QS ADZ-DZARIYAT : 56 bacaan Idgham Bi Ghunnah dan Ikhfa'
QS AL BAQARAH : 30 وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةًۭ ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْ...
• KEMURNIAN IBADAH Surat Al An’am : 162 – 163
Surat Al An’am : 162 – 163 قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَال...
• TAJWID QS AL MUKMINUN : 12 – 14 Bacaan Idh-har, Bacaan Idgham Bila Ghunnah, dan Iqlab
Mengidentifikasi Bacaan Idh-har, Bacaan Idgham Bila Ghunnah, dan Iqlab. وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ ج...
• TAJWID QS AN NAHL ; 78 ANUGERAH ALLAH KEPADA MANUSIA
ANUGERAH ALLAH KEPADA MANUSIA Standar Kompetensi Memahami ayat-ayat Al Qur’an tentang manusia dan tugasnya sebagai Hamba Allah dan khalifah-...
• QS AN NAHL : 78 ANUGERAH ALLAH KEPADA MANUSIA
QS AN NAHL : 78 وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئ...

PROSES KEJADIAN MANUSIA QS ALMUKMINUN ; 12-14 DALAM BENTUK FILMNYA
Subhannallah sungguh sesuatu yang luar biasa, sangat menakjubkan, tanpa terpikir oleh kita sebagai manusia yang berakal bahwa proses kejadia...
• TUGAS HIDUP MANUSIA QS: AL BAQARAH 30 -31 DAN QS: ADZ-DZARIYAT 56
QS: AL BAQARAH 30 -31 وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةًۭ ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا م...
• DOWNLOAD MEDIA PEMBELAJARAN QUR'AN HADIS, SMA/SMK
media pembelajaran power point kelas x sma/smk bab 3 [ download ]
• HADIS : PROSES KEJADIAN MANUSIA DAN KORELASI DENGAN QS ALMUKMINUN ; 12-14
HADIS : TENTANG PROSES KEJADIAN MANUSIA عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قاَلَ ;حَدَّثَناَ رَسُوْلُ اللّهِ .صلم. وَهُوَ الصَّادِ...
• Makhorijul Huruf : TEMPAT KELUARNYA HURUF
Tempat Keluarnya huruf Tiap-tiap huruf hijaiyah mempunyai tempat keluarnya masing-masing dari bagian-bagian mulut tertentu. Tempat keluar ...

Follow by Email





Terintregasi








Kami mendukung




Blog Archive
• ▼ 2011 (17)
o ▼ December (17)
 DOWNLOAD MEDIA PEMBELAJARAN QUR'AN HADIS, SMA/SMK
 KEMURNIAN IBADAH Surat Al Bayyinah : 5
 KEMURNIAN IBADAH Surat Al An’am : 162 – 163
 HADIS QUDSI ANUGERAH ALLAH KEPADA MANUSIA
 Makhorijul Huruf : TEMPAT KELUARNYA HURUF
 PETA KONSEP BACAAN NUN-MTI / TANWIN
 QS AN NAHL : 78 ANUGERAH ALLAH KEPADA MANUSIA
 TAJWID QS AN NAHL ; 78 ANUGERAH ALLAH KEPADA MANUS...
 TAJWID QS AL BAQARAH : 30 DAN QS ADZ-DZARIYAT : 56...
 TAJWID QS AL MUKMINUN : 12 – 14 Bacaan Idh-har, Ba...
 PROSES KEJADIAN MANUSIA QS ALMUKMINUN ; 12-14 DALA...
 Kewajiban Mengikuti Sunnah atau hadis
 As-Sunnah, Wahyu Kedua Setelah Al-Qur`an [ dalam h...
 HADIS : PROSES KEJADIAN MANUSIA DAN KORELASI DENGA...
 KEJADIAN MANUSIA : QS AL MUKMINUN : 12-14 DAN HADI...
 PENJELASAN IBADAH DALAM QS: AL BAQARAH 30 -31 DAN ...
 TUGAS HIDUP MANUSIA QS: AL BAQARAH 30 -31 DAN QS: ...

About Me
admin
blog ini sengaja saya tulis untuk untuk menunjang proses pembelajaran siswa dalam mencari referensi pelajaran.semoga blog ini dapat bermanfaat
View my complete profile

Followers


Artinya:
³12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal)dari tanah. 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalamtempat yang kokoh (rahim). 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah,lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
´ (QS Al Mukminun : 12-14

Ayat-ayat al-Qur’an tentang Keikhlasan dalam Beribadah
Bab 2
Ayat-ayat al-Qur’an tentang Keikhlasan dalam Beribadah


A. QS Al An’am [6]: 162-163 tentang Salat, Ibadah, Hidup, dan Mati Hanya untuk Allah
Artinya: “162. Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. 163. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS Al-An’am : 162-163)
Kandungan
Surat Al-An’am ayat 162-163 sering dibaca pada bacaan iftitah shalat karena ayat ini bermakna sebuah pengakuan terhadap kekuasaan Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Kita mengakui bahwa Allah SWT adalah satu-satunya zat yang patut dan wajib disembah, karena yang lain tidak ada yang bisa menandingi kekuasaan Allah SWT.
Kandungan Surat Al An’am ayat 162 – 163, antara lain:
1. Semua aktivitas kehidupan, baik berupa ibadah khusus seperti shalat, zakat, puasa dan ibadah umum seperti muamalah, bahkan kehidupan dan kematian hendaknya kita serahkan kepada Allah semata
2. Tidak ada yang dapat menyamai Allah
3. Hendaknya kita hanya berserah diri kepada Allah

B. QS Al Bayyinah [98]: 5 tentang Perintah Menyembah Allah dengan Ikhlas



Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al Bayyinah : 5)
Kandungan
Surat Al Bayyinah ayat 5 memiliki beberapa kandungan, antara lain:
1. Manusia diperintahkan untuk menyembah hanya kepada Allah SWT
2. Memurnikan agama Allah dari ajaran-ajaran kemusyrikan
3. Manusia diperintahkan mendirikan shalat dan zakat
4. Menyembah kepada Allah dan menjauhi kemusyrikan adalah agama yang benar dan lurus
Menjalankan ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah dengan penuh keikhlasan, seperti dalam menjalankan perintah shalat yang tepat pada waktunya dengan khusyuk serta lengkap dengan rukun dan syaratnya.
Kata ikhlas secara harfiah berarti murni, suci, atau bersih. Menurut istilah, ikhlas adalah melakukan ibadah dengan tulus hati dan semata-mata mengharap rida Allah swt.


Latihan
A. Pilih satu jawaban yang paling tepat dari pernyataan di bawah ini!
1. Salah satu kandungan surat Al Bayyinah ayat 5 adalah …
a. Manusia diperintahkan untuk menyekutukan Allah
b. Manusia diperintahkan untuk menyembah kepada Allah
c. Manusia diperintahkan meninggalkan shalat
d. Manusia dilarang menunaikan zakat
e. Manusia diperintahkan berbuat kebaikan
2. Arti bacaan dari kalimat ( دِيْنُ الْقَيِّمَة ) adalah …
a. Agama yang tegak d. Agama yang diridhai
b. Agama yang lurus e. Agama yang baik
c. Agama yang selamat
3. Hukum bacaan kalimat ( لاَ شَرِيْكَ ) adalah …
a. Mad wajib d. Mad asli
b. Gunnah e. Mad tamkin
c. Izhar
4. Kata ( اِنَّ ) adalah bacaan gunnah, karena ….
a. Nun mati d. Mendengung
b. Tanwin e. Jelas
c. Nun tasydid
5. Pada kalimat (العَالَمِيْنَ) dibaca mad arid lissukun karena huruf mad bertemu dengan huruf…...yang dibaca waqaf
a. ى d. نَ
b. مِ e. نِ
c. مَ
6. Salah satu perbuatan kemusyrikan adalah …
a. salat d. mengaji
b. puasa e. berwudhu
c. menyembah patung
7. Menyembah kepada Allah dan menjauhi kemusyrikan adalah agama yang …
a. Benar dan salah d. Lurus dan salah
b. Benar dan lurus e. Jujur dan bohong
c. Lurus dan bengkok
8. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk mendirikan …
a. Salat dan menunaikan puasa d. Puasa dan menunaikan salat
b. Salat dan menunaikan zakat e. Zakat dan menunaikan haji
c. Puasa dan menunaikan haji
9. Kata (مَحْيَايَ) artinya…
a. matiku d. sialku
b. hidupku e. senangku
c. gembiraku
10. Agama Islam datang untuk memurnikan …
a. air d. zakat
b. shalat e. haji
c. tauhid
11. Mengerjakan sesuatu amal semata-mata hanya mengharap ridha Allah disebut…
a. Ikhlas d. Taqwa
b. Iman e. Islam
c. Tawadhu’
12. Allah swt menyuruh hamba-Nya untuk berhati ikhlas dalam setiap beramal. Hal tersebut diterangkan dalam surat….
a. Al A’raf : 29 d. Al Hijr : 40
b. Al Hijr : 39 e. Al Mu’min : 41
c. Al Anfal : 2

13. Orang yang melakukan pekerjaan dan ingin didengar oleh orang lain disebut….
a. Riya d. mukhlis
b. sum’ah e. fasiq
c. munafiq
14.

Arti yang tepat dari potongan ayat diatas adalah….
a. maka ajaklah mereka ke jalan yang ikhlas
b. maka sembahlah Allah yang penuh ikhlas
c. apabila kamu beribadah kepada Allah harus ikhlas
d. Allah hanya menerima hamba-Nya yang beribadah dengan ikhlas
e. Hanya keikhlasanlah yang membuat hamba mau menyembah Allah.
15. Potongan ayat diatas ( no 14) terdapat dalam QS ….
a. Al Mu’min : 14 d. Al A’raf : 92
b. Al Mu’min : 41 e. Al Bayinah: 5
c. Al A’raf : 29
16. Jika manusia beramal selalu dibarengi dengan sikap riya dan sum’ah, pada akhirnya akan membentuk sikap manusia tersebut menjadi ….
a. Fasiq d. Takabur
b. Kafir e. Murtad
c. Nifaq
17. Orang yang beramal dengan ikhlas menurut Al Qur’an tidak akan tersesat oleh bujukan syetan. Keterangan tersebut terdapat dalam surat….
a. Al Hijr : 39-40 d. Al Mu’min: 14
b. Al Bayyinah : 5 e. Al Anfal : 2
c. Al A’raf : 92
18. Dibawah ini adalah keuntungan yang diperoleh oleh orang yang bersikap ikhlas, kecuali
a. Ketenangan hati d. Banyak pengetahuan
b. Ketentraman batin e. Bersemangat dalam bekerja
c. Banyak mendapatkan simpati
19. Di bawah ini tanda-tanda orang bekerja dengan ikhlas, kecuali….
a. merasa mampu d. jujur
b. tidak sombong e. selalu semangat
c. tidak mengharap pujian
20. Nilai suatu pekerjaan akan tergantung pada….
a. siapa yang menyuruhnya d. apa yang diniatkannya
b. siapa yang mengerjakannya e. bagaimana sikap moralnya
c. apa yang dikerjakannya

1. PERINTAH MUSYAWARAH
Bacalah ayat-ayat dibawah ini dengan tartil perhatikan tajwid dan kefasihanmu lakukan selama 5 – 10 menit sebelum memulai pelajaran agama islam.
1. Surat Ali Imran 159 tentang perintah musyawarah.

Artinya : ”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”
Ayat diatas menjelaskan bahwa dengan adanya rahmat Allah swt, Nabi Muhamad saw, berlaku lemah lembut, tidak bersikap dan berperilaku keras dan kasar. Selain itu dalam pergaulan beliau senantiasa memberi maaf terhadap orang yang berbuat salah serta memohonkan ampun kepada Allah terhadap kesalahan-kesalahan orang yang menyalahi beliau. Rasulullah juga senantiasa bermusyarawarah dengan para sahabatnya tentang hal-hal yang perlu dimusyawarahkan. Keluhuran budi Rasulullah inilah yang menarik simpati orang lain, tidak hanya kawan bahkan lawanpun menjadi tertarik sehingga mau masuk islam.
Oleh karen itu, dapat dipahami bahwa Islam mengajarkan bahwa tatanan kehidupan muslim adalah mengedepankan perdamaian yang menitik beratkan demokrasi/musyawarah.Oleh sebab itu Q.S. Ali ‘Imran : 159 tersebut di atas mempunyai makna/pesan moral agar umat Islam di dalam menjalankan kehidupannya baik dalam berdakwah (mengajak orang lain) untuk memahami Islam, atau berperan sebagai seorang pemimpin (khalifah) hendaknya memperhatikan Q.S. Ali ‘Imran : 159 ( sebagai ciri –ciri kepemimpinan yang baik) yang kandungannya dapat disimpulkan antara lain sebagai berikut :

a. Berlaku lemah lembut terhadap sesama (bersikap simpatik). Maksudnya adalah menjaga tutur kata dengan ucapan yang baik, tidak membuat orang lain marah dan tersinggung, justru merasa dihargai, dan berkomunikasi yang baik.
b. Saling mema’afkan (sikap terbuka dan interaktif). Maksudnya adalah jika terjadi kesalahpahaman saat menyelesaikan persoalan, mungkin saja salah satu dari kita membuat kesalahan. Minta dan berikan ma’af. Mema’afkan kesalahn orang lain adalah bagian dari taqwa (Q.S. 3 : 133 dan 134).
c. Memohon ampun (empati dengan kekurangan dan kesalahan diri dan orang lain).
d. Mengedepankan musyawarah dalam memecahkan suatu persoalan (demokratis).
e. Bertawakkal (memasrahkan diri segela urusan dan keputusan musyarawah kepada Allah).
Penekanan isi ayat ini adalah perintah musyawarah tidak hanya untuk nabi saja tetapi juga untuk semua orang.
Musyawarah berasal dari kata ”syawara” secara bahasa artinya adalah mengeluarkan madu dari sarang lebah, bisa dapat juga diartikan menurut keumuman bahasa Indonesia adalah : berunding, urun rembuk, rapat, mengajukan pendapat dan usul. Sedangkan arti menurut istilah ialah : suatu kegiatan perundingan antar pribadi atau golongan antara 2 orang atau lebih dalam rangka memecahkan mengenai suatu masalah atau beberapa masalah, dengan maksud untuk mengambil keputusan atau kesepakatan bersama.
Dalam bermusyawarah hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip berikut :
a. Musyawarah dilandasi dengan hati yang bersih
b. Bermusyawarah dalam hal-hal yang baik atau tidak mengarah kepada perbuatan dosa dan kejahatan.
c. Bersikap dan berperilaku yang baik misalnya : saling menghargai dan menghormati, berkata yang sopan, tidak memaksakan kehendak dan lain-lain.
d. Berlapang dada, bersedia memberi maaf dan meminta maaf apabila ada kesalahan.
e. Terhadap hasil yang sudah disepakati kita laksanakan bersama dan kita pasrah atau bertawakkal kepada Allah swt.
Penerapan Sikap dan Perilaku :
Sikap dan Perilaku yang mencerminkan penghayatan Q.S. Ali ‘Imran : 159 adalah sebagai berikut :
1. Menunjukkan sikap lemah lembut terhadap sesama manusia.
2. Menunjukkan sifat kejujuran dalam mengemukakan pendapat, dan menyampaikan informasi.
3. Ikhlas saat memberikan ma’af kepada orang lain.
4. Menghormati pendapat atau saran orang lain, walaupundirinya yang benar.
5. Senantiasa bertawakkal dengan sabar serta berusaha dan ikhtiar.
2. Surat Asy Syuura 38 tentang pentingnya musyawarah.

Artinya : ”Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.”
QS. Asy Syura 38 diatas menjelaskan sifat-sifat orang yang beriman yang akan memasuki surga Yaitu :
a. Senantiasa melaksanakan perintah Allah swt, dan meninggalkan larangannya.
b. Disiplin dalam mengerjakan sholat.
c. Selalu bermusyawarah dalam hal-hal yang perlu dimusyawarahkan.
d. Menafkahkan sebagian rizki yang telah dikaruniakan oleh Allah swt. Untuk hal-hal yang diridloiNya.
Musyawarah termasuk salah satu sifat orang yang beriman, hal ini perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim terutama dalam hal-hal yang memang perlu dimusyawarahkan, misalnya : Hal yang sangat penting, sesuatu yang ada hubungannya dengan orang banyak / masyarakat, pengambilan keputusan dan lain-lain.
Dalam kehidupan bermasyarakat musyawarah sangat penting karena :
a. Permasalahan yang sulit menjadi mudah karena dipecahkan oleh orang banyak lebih-lebih kalau yang membahas orang yang ahli.
b. Akan terjadi kesepahaman dalam bertindak.
c. Menghindari prasangka yang negatif, terutama masalah yang ada hubungannya dengan orang banyak
d. Melatih diri menerima saran dan kritik dari orang lain
e. Berlatih menghargai pendapat orang lain.
Penerapan Sikap dan Perilaku
Sikap dan Perilaku yang mencerminkan penghayatan Q.S. Asy Syura : 38 adalah sebagai berikut :
a. Menyeru atau mengajak manusia untuk senantiasa berada di jalan Allah SWT, yang dilakukan dengan cara berdialog atau berdiskusi dengan baik dan penuh argumentasi yang tepat.
b. Terbiasa mendirikan shalat tepat waktu yang dilaksanakan secara berjama’ah, sebagai simbol kekuatan ummat dan kebersamaan.
c. Ikut serta berperan aktif dalam kegiatan organisasi dan peduli terhadap permasalahan di lingkungannya.
d. Selalu bermusyawarah untu mencari jalan keluar dalam menghadapi hal-hal yang penting
e. Peduli kepada kaum dlu’afa dengan kelebihan rezeki yang Allah berikan kepadanya,
E. RANGKUMAN MATERI
a. Surah Ali Imran ayat 159 menjelaskan tentang adanya rahmat Allah swt, yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw, sehingga beliau senatiasa berakhlak mulia, berhati lembut, penuh kasih sayang, bersifat dan berperilaku baik yang diridloi Allah swt, selain itu rasulullah juga suka memberi maaf, memohonkan ampun kepada Allah swt, bermusyawarah dalam hal-hal yang perlu dimusyawarahkan dan selalu bertawakkal kepada Allah swt. Akhlak mulia seperti inilah yang perlu kita teladani dalam kehidupan sehari-hari.
b. Surah Asy Syura 38 menjelaskan tentang sifat-sifat orang yang beriman diantaranya : Bertaqwa, disiplin sholat lima waktu, suka bermusyawarah dan menafkahkan hartanya dijalan Allah.
1. Terjemahan surah Ar-Rum ayat 41-42
41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
42. Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”
1. Isi kandungan surah Ar-Rum ayat 41-42
1. Pengertian menjaga kelestarian lingkungan hidup
menurut kamus besar bahasa indonesia, kata lestari artinya tetap selama-lamanya, kekal, tidak berubah sebagai sediakala, melestarikan; menjadikan (membiarkan) tetap tidak berubah dan serasi : cocok, sesuai, berdasarkan kamus ini melestarikan, keserasian, dan keseimbangan lingkungan berarti membuat tetap tidak berubah atau keserasian dan keseimbangan lingkungan
(http://agustinarahmayani.wordpress.com/2008/04/17/pemanfaatan-dan-pelestarian-lingkungan-hidup/)
Menurut Prof.Dr.Otto Soemarwoto, Lingkungan adalah jumlah semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang kita tempati yang mempengaruhi kehidupan kita. Menurut UU No.4 Tahun 1982 tentang pokok-pokok pengelolaan Lingkungan Hidup, jumto UU No. 23 Tahun 1997, Pasal I bahwa lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk lainnya.
Menurut Prof. Dr. Emil Salim Lingkungan Hidup adalah segala benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati dan mempengaruhi hal-hal yang hidup termasuk kehidupan manusia.
pelestarian lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya
.
1. Contoh perbuatan menjaga kelestarian lingkungan hidup
a) Pencegahan masalah air dilakukan dengan cara pencegahan pencemaran, pengamanan pintu-pintu air, pengunaan air tidak boros. Hutan-hutan disekitar sungai, danau, mata air dan rawa perlu diamankan. upaya untuk mengurangi pencemaran sungai diantaranya melalui program kali bersih (prokasih) terhadap sungai-sungai yang telah tercemar.
b) Mencegah cara ladang berpindah / Perladangan Berpindah-pindah.Terkadang para petani tidak mau pusing mengenai kesuburan tanah. Mereka akan mencari lahan pertanian baru ketika tanah yang ditanami sudah tidak subur lagi tanpa adanya tanggung jawab membiarkan ladang terbengkalai dan tandus. Sebaiknya lahan pertanian dibuat menetap dengan menggunakan pupuk untuk menyuburkan tanah yang sudah tidak produktif lagi.
c) Contoh perbuatan yang paling sederhana dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup, yaitu dengan selalu nembuang sampah pada tempatnya, dan tidak membuangnya sembarangan. Karena perbuatan membuang sampah sembarangan ini, dapat menyebabkan banjir. Karena banjir bisa terjadi akibat tertutupnya saluran-saluran air, sehingga air hujan atau air lainnya, tidak dapat mengalir dengan lancar.
QS. Shad (38) : 27
Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat
A. AL-QUR’AN SURAH AR-RUM AYAT 41-42
1. Membaca
Bacalah Q.S. Ar-Rum ayat 41-42 berikut dengan bacaan yang benar!

Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Q.S. Ar Rum (30) : 41-42
2. Tulislah lafal terjemahan kata dari :
: telah nampak, telah timbul : ulah tangan, manusia
: kerusakan : agar mereka merasakan
: di darat : sebagian yang
: dan di laut : perbuatan mereka
: dengan sebab apa : agar, supaya mereka
: yang telah dilakukan : kembali
: berjalanlah kamu sekalian : yang telah lalu
: perhatikanlah oleh kalian : kebanyakan mereka
: akibat, kesudahan
3. Penerapan ilmu tajwid Q.S. Ar-Rum ayat 41-42
No Lafal Keterangan
1.

2.

3.

4.

5.

6.




dinamakan bacaan izhar qamariyah (“Al” qamariyah) sebab alif lam ( ال ) berhadapan dengan huruf qamariyah, yaitu fa’ (ف )
dibaca mad asli atau mad tabi’i sebab ada huruf alif (ا ) terletak sesudah fathah
dibaca idgam syamsiyah (“AL” syamsiyah) sebab huruf alif lam ( ال ) berhadapan dengan salah satu huruf syamsiyah, yaitu huruf nun ( ن )
mad tabi’i disebabkan ada huruf ya’ mati ( ﻱْ ) terletak sesudah harakat kasrah. Panjang bacaan 2 huruf
hukum bacaannya ialah mad ‘arid lis sukun, sebab ada satu huruf terletak sesudah mad tabi’i dan dibaca waqaf (berhenti). Panjang bacaan 2 harakat
dibaca ikhfa’ haqiqi, sebab ada nun sukun ( ﻥْ ) bertemu dengan salah satu huruf ikhfa’ yaitu qaf ( ق ). Cara membacanya samar-samar
4. Kandungan Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41-42
Kerusakan di bumi ini terjadi hanyalah karena tangan-tangan jahil manusia, sehingga terjadi banyak musibah dan bencana dimana-mana. Misalnya: banjir, angin tornado, gempa bumi, tsunami dan sebagainya, yang banyak menelan korban. Oleh karena kebanyakan manusia tidak mengindahkan ayat-ayat Allah swt.
Kerusakan yang terjadi dapat dikelompokkan menjadi lima bidang, yaitu:
a. Kerusakan dalam bidang akidah atau keimanan. (Q.S. Al-Baqarah : 8 dan Q.S. Al-Hujurat : 14-15.
b. Kerusakan di bidang mental dan kecerdasan manusia (intelektual) (Q.S. Al-Hajj : 8-10).
Manusia yang terganggu mentalnya dengan ciri-ciri :
• Berbuat zalim dan bodoh (Q.S. An Naml : 14)
• Tidak mendengar petunjuk ( Q.S. Al Qashash : 56)
• Tindakannya ragu-ragu (Q.S. 11)
• Tidak kritis, selalu pasrah dan selalu menerima (Q.S. Al Maidah : 104)
• Terpengaruh dengan ilmu atau budaya lain yang merusak (Q.S. Al An’aam : 116)
Sedangkan anusia yang terganggu intelektualnya dengan ciri-ciri :
• Suka kepada dongeng atau hal-hal yang berbau mistik (Q.S. Al An’aam : 25)
• Tidak pernah mengkaji Al Qur’an (Q.S. Yunus : 39)
• Tidak menerima Al Qur’an sebagai pedoman (Q.S. Al Maidah : 48-50)
• Mudah terpengaruh lingkungan (Q.S. Al Furqaan : 27 dan 30)
• Tidak mau melihat fakta (Q.S. Yunus : 29)
c. Kerusakan di bidang pembinaan dalam kehidupan keluarga.(Q.S. An-Nur : 58-60).
d. Kerusakan harkat dan martabat manusia.( Q.S. Al-Baqarah : 195)
e. Kerusakan dalam bidang material dan sumber daya alam.( Q.S. Al-Qashash : 77).
Beberapa contoh lain mengenai penyalahgunaan sumber-sumber alam dapat disebutkan sebagai berikut ;
a. Perusakan tanah pertanian dan lautan
b. Pencemaran udara dan sumber-sumber air
c. Pengurasan hasil-hasil tambang
d. Penggundulan dan pembakaran hutan-hutan
e. Tidak adanya perlindungan terhadap binatang-binatang
f. Pembangunan kota dan pemukiman tidak pada tempatnya.
Di antara isi pokok kandungan yang lain dari pemahaman ayat tersebut :
a. Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di muka bumi memiliki kewajiban mengelola, memelihara dan memanfaatkan alam yang telah Allah ciptakan untuk kepentingan dan kesejahteraan seluruh makhluk Allah.
b. Ketidak pedulian terhadap sumber daya alam mengakibatkan kerusakan lingkungan yang memperihatinkan manusia itu sendiri
c. Kerusakan alam baik di darat maupun di laut adalah akibat ulah tangan manusia itu sendiri
d. Islam melalui pemahaman ayat Al Qur’an pengerusakan lingkungan, karena untuk menjamin kesejahteraan hidup manusia membutuhkan keserasian ekosistem
5. Sikap dan perilaku yang mencerminkan Q.S. Ar-Rum ayat 41-42
a. Cinta lingkungan alam sekitar
b. Selalu menjaga dan memelihara kelestraian alam
c. Tidak merusak habitat alam
d. Tidak melakukan pencemaran lingkungan hidup
e. Cinta kebersihan lingkungan
f. Bumi serta isinya merupakan ciptaan Allah yang diperuntukkan bagi kesejahteraan manusia tugas manusia adalah menjaga alam semesta agar tetap dalam keadaan baik dan lestari.
g. Sumber alam yang ada merupakan anugrah yang datangnya dari Allah swt, ada yang tidak dapat diperbaharui, seperti barang tambang, dan ada pula yang dapat diperbaharui. Bila manusia tidak memiliki kepedulian pada sumber alam tersebut, semuanya akan punah seperti banyak fakta yang sudah diungkapkan para ilmuwan.
h. Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Allah swt telah memberi peringatan dengan beragam kisah manusia yang sudah berbuat ker usakan dan dampaknya dapat dibuktikan.
i. Peduli dan menjaga kelestarian lingkungan mulai yang terkecil (rumah tangga, sekolah) sampai yang lebih luas (RT, RW, kampong, desa, dan seterusnya).
j. Senantiasa memelihara tatanan non fisik, misalnya ajaran agama, norma dan adat istiadat setempat sehingga tercapai kebahagiaan hakiki (jasmani dan rohani).
B. AL-QUR’AN SURAH AL-ARAF’ AYAT 56-58
1. Membaca
Bacalah Q.S. Al-A’raf ayat 56-58 berikut dengan bacaan yang benar!

Artinya : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerh yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh merana. Demikianlah kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Al-A’raf (7) : 56-58)
2. Tulislah lafal terjemahan kata dari :
: dan janganlah : mendung, tebal, berat
: kamu berbuat kerusakan : Kami halau dia
: memperbaikinya : untuk berbagai daerah/tanah/negara
: dan berdoalah kepada-Nya : mati, tandus
: perasaan takut : kami keluarkan dengai air hujan
: penuh pengharapan : buah-buahan
: dekat : kamu mengambil pelajaran
: orang-orang yang berbuat baik : yang baik
: mengutus, mengirim, meniupkan : tanaman-tanamannya
: angin : tidak baik, buruk
: pembawa berita yang menggembirakan : kerdil/merana
: sebelum kedatatangan, di hadapan : Kami jelasakan
: membawa : bersyukur
: awan
3. Penerapan ilmu tajwid dalam Surah Al-A’raf ayat 56-58, isilah lafalnya.
No Lafal Nama Bacaan Cara Membaca Sebab/Karena
1.
2.
3.
4.
5.
6. Mad tabi’i
Qalqalah sugra
Idgam bigunah
Idgam bigunah
Iqlab
Mad ‘arid lis sukun Panjang 2 harakat
Memantul ringan
Masuk/melebur dengan mendengung
Masuk/melebur dengan mendengung
Membaca membalik atau mengubah bunyi dari n ke m = “ranba” menjadi ramba
Membaca panjang 2- 6 harakat dan berhenti/wakaf Ada wawu sukun ( )
Ada huruf qalqalah berharakat sukun asli ( )
Ada tanwin ( ) bertemu dengan huruf idgam bigunah yaitu wawu ( )
Ada tanwin ( ) bertemu huruf idgam bigunah yaitu mim ( )
Ada tanwin ( ) bertemu huruf iqlab yaitu ba’ ( )
Ada satu huruf sesudah mad tabi’i dan dibaca waqaf
4. Kandungan Q.S. Al-A’raf ayat 56-58
a. Allah swt menjelaskan bahwa Dialah Sang Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, sekaligus pula yang memelihara dan mengaturnya.
b. Allah-lah yang memberikan rezeki kepada semua makhluk-Nya di bumi ini. Dialah pemberi kehidupan dan yang menghidupkan kembali di akhirat kelak. (Q.S. Muhammad :15-16).
c. Allah menciptakan bumi ini dalam keadaan baik dan sempurna. Adapun kerusakan-kerusakan yang terjadi yang berakibat petaka, musibah, serta bencana alam dan sebagainya hanyalah karena ulah tangan manusia itu sendiri.
d. Allah swt menerangkan bahwa Dia yang mengirimkan angin kesegala penjuru, memberi kabar gembira akan datangnya musin penghujan dengan turunnya hujan, tumbuh-tumbuhan yang telah layu, kering, tandus bahkan hamper mati, akan kembali subur kemudian akan menghasilkan bemacam-macam buah-buhan yang sangat berguna bagi manusia.
Diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari dan Muslim, dan Nasai dari Abu Musa Al Asy’ary. Dia berkata: Rasulullah SAW bersabda : Perumpamaan ilmu dan petunjuk yang akan aku diutus untuk menyampaikannya adalah seperti hujan lebat yang menimpa bumi. Maka ada di antara tanah itu yang bersih (subur) dan dapat menerima hujan itu, lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak. Tetapi, ada pula di antaranya tanah yang lekang (keras) yang tidak meresapi air hujan itu dan tidak menumbuhkan sesuatu apa pun. Tanah itu dapat menahan air (mengumpulkannya) sehingga manusia dapat mengambil manfaat dari air itu, maka dapat minum, mengairi, bercocok tanam. Tanah-tanah yang beraneka ragam itu adalah perumpamaan bagi orang yang dapat memahami agama Allah. Lalu ia mendapat manfaat dari petunjuk-petunjuk itu dan mengajarkannya kepada manusia, dan perumpamaan pula bagi orang-orang yang tidak memedulikannya dan tidak mau menerima petunjuk itu. Nabi Muhammad SAW memberikan predikat (julukan) Al Hadi (orang yang memberi manfaat untuk dirinya, orang yang dapat memahami agama Allah untuk dirinya dan mengamalkannya) dan Al Muhtadi (orang yang dapat manfaat untuk dirinya dengan memahami agama Allah dan memberikan manfaat kepada orang lain), dan memberikan predikat Al Jahid kepada golongan ketiga yang tiada manfaat untuk dirinya dengan tidak mau memahami agama Allah dan tidak dapat memberikan manfaat untuk orang lain.
Kesimpulan Q.S. Al A’raaf : 56-58 :
1. Larangan berbuat kerusakan di muka bumi karena bumi sudah diciptakan baik untuk manusia
2. Perintah berdo’a kepada Allah dengan rasa takut (tidak diterima) dan penuh harap (agar diterima)
3. Allah SWT telah memberikan rahmat berupa angin yang membawa awan menjadi hujan
4. Dengan air hujan Allah menumbuhkan beraneka ragam tumbuhan
5. Allah Maha Kuasa dalam menciptakan tanah yang subur dan yang tandus
5. Sikap dan perilaku yang mencerminkan Q.S. Al-A’raf ayat 56-58
a. Tidak suka berbuat kerusakan
b. Rajin berdoa kepada Allah
c. Gemar berbuat kebaikan
d. Selalu mengambil pelajaran (i’tibar) dari peristiwa alam
e. Selalu bersyukur kepada Allah
f. Manusia memperoleh kebutuhan hidupnya di bumi. Manusia sebagai khalifah-Nya diharapkan dapat menjaga dengan baik supaya bumi tidak rusak yang merugikan manusia itu sendiri.
g. Peduli terhadap kelestarian alam, berbuat sesuatu disertai rasa tanggung jawab, serta banyak berdoa kepada Allah swt dengan rasa takut (khawatir tidak diterima) dan berharap (agar doanya dikabulkan), sehingga terhindar dari perbuatan yang tidak baik apalagi merugikan pihak lain.
h. Senantiasa berhati-hati dalam kehidupan di bumi, karena sekecil apapun yang dibuat, kelak akan diminta tanggung jawabnya di akhirat.
i. Berupaya meningkatkan pemahaman agama Allah yang benar agar mampu memberi manfaat kepada orang lain seperti contoh tanam-tanam tumbuh subur dan berbuah yang memberi manfaat.
C. AL-QUR’AN SURAH SAD AYAT 27
1. Membaca
Bacalah Q.S. Sad ayat 27 berikut dengan bacaan yang benar!

Artinya : ”Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka”. (Q.S. Sad (38):27)
2. Tulislah lafal terjemahan kata dari :
: dan tidak
: kami ciptakan
: dan apa-apa daiantara keduanya
: sia-sia, tanpa hikmah
: sangkaan
: bagi orang-orang yang
: dari azab neraka
: pantaskah kami jadikan
: seperti orang-orang yang membuat kerusakan
: seperti orang-orang yang berdosa
3. Penerapan ilmu tajwid dalam Q.S. Sad ayat 27, isilah lafalnya.
No Lafal Nama Bacaan Cara Membaca Sebab/Karena
1.
2.
3.
4.
5. Mad wajib muttasil
Mad layin
Tanda waqaf aula
Mad layin
Mad ‘arid lis sukun Panjang 5-6 harakat
Membaca lunak (… ai)
lebih baik waqaf (berhenti)
Membaca lunak (… ai)
panjang 4-6 harakat Ada hamzah sesudah mad tabi’i
Ada ya’ sukun (mati)
sesudah fathah
-
Ada ya’ sukun (mati) sesudah fathah
Mad tabi’i bertemu satu huruf dibaca waqaf
4. Kandungan Q.S. Sad ayat 27
a. Alam semesta diciptakan oleh Allah swt sangat banyak manfaatnya bagi umat manusia. Sesuai Q.S. Al-Baqarah ayat 164. Seluruh kebutuhan manusia telah disediakan oleh Allah swt dan bagaimana manusia dapat memanfaatkan sebesar-besarnya untuk manusia itu sendiri di muka bumi ini.
b. Manusia diciptakan Allah hanya untuk menyembah dan mengabdi kepada-Nya, melestarikan lingkungan dengan cara menjaga, merawat, tidak merusaknya merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada Allah swt.
c. Orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt tidak akan diperlakukan oleh Allah sama dengan orang-orang yang durhaka dan kafir terhadap-Nya.
5. Sikap dan perilaku yang mencerminkan Q.S. Sad ayat 27
a. Dapat mengambil hikmah dari penciptaan alam semesta
b. Selalu beriman kepada Allah
c. Suka beramal soleh
d. Tidak berbuat kerusakan
e. Orang yang beriman akan menjaga lingkungan
f. Seseorang akan bertambah kuat imannya apabila mau berpikir dan merenung tentang keberadaan alam semesta ini serta segala isinya termasuk dirinya. Sesuai Q.S. Ali-Imran ayat 190 dan 191.
g. Orang yang beriman akan memanfaatkan seluruh isi alam ini dengan sebaik-baiknya dan berusaha untuk memelihara, melestarikan, serta menjaga dari kerusakan. Sesuai Q.S. Fatir ayat 27-28.
h. Orang yang beriman kepada Allah swt akan tumbuh kesadaran untuk selalu berbuat baik dan beramal tanpa ada rasa terpaksa. Sesuai Q.S. Fatir ayat 19-22.
D. Penerapan Sikap dan Perilaku
Beberapa perilaku yang dapat diterapkan berkaitan dengan menjaga kelestarian lingkungan hidup, antara lain sebagai berikut :
1. Tidak membuang sampah sembarangan
2. Memilah dan memilih sampah yang dapat didaur ulang dengan yang tidak
3. Menanam pohon agar lingkungan menjadi hijau dan segar
4. Tidak suka membunuh hewan sembarangan karena bisa merusak ekosistem
5. Berhemat dalam memakai peralatan dan bahan baker
6. Tidak membuat polusi terhadap udara
7. Hemat dalam menggunakan listrik dan air bersih
8. Mulai melakukan pola sehat dan dimulai dari diri sendiri
9. Gemar mencari cara yang hemat dan tepat guna serta memberitahukan kepada lingkungan sekitar
10. Sering mencari informasi mengenai cara menjaga lingkungan yang baik, khususnya pada lembaga yang berkompeten
11. Menyadari bahwa melestarikan lingkungan adalah tanggung jawab kita semua sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam.
QS.Yunus:101 dan Al Baqarah: 164
Minggu, 13 Juni 2010
Sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna
Bab 3
Sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna

A. Antara Zat dan Sifat Allah
Keberadaan Allah dapat didekati dari dua aspek, yaitu zat dan sifat. Allah berada pada aspek zat sewaktu kita memahami Allah sebagai “sesuatu” yang mandiri atau terlepas dari apa pun. Pada aspek ini Allah tidak bisa dikenal, karena manusia hanya bisa memahami sesuatu. Padahal Allah berbeda dengan sesuatu yang dipahami manusia, sehingga tidak mungkin dikenal dan dipahami melalui aspek zat.

Artinya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat”. (QS. Asy-Syura[42]: 11)

Aspek kedua dari keberadaan Allah yaitu sifat. Sifat-sifat Allah muncul hanya dalam hubungannya dengan alam. Sementara dalam hubungannya dengan diri-Nya sendiri, Dia tidak memiliki sifat apa-apa. Karena itu, disebutkannya sifat-sifat Allah dalam al-Qur’an merupakan upaya Allah untuk memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk-Nya, terutama manusia.
Sifat-sifat Allah
No Sifat Wajib Sifat Mustahil
1 Wujud Ada Adam Tidak ada
2 Qidam Dahulu Huduus Baru
3 Baqa' Kekal Fana Rusak
4 Mukhalafatuhu lil hawadits Berbeda dengan ciptaan-Nya Mumatsalatuhu lil hawadits Sama dengan ciptaan-Nya
5 Qiyamuhu binafsihi Berdiri dengan sendirinya Ihtiyaju lighairihi Membutuhkan yang lain
6 Wahdaniyyah Esa atau Tunggal Ta'addud Berbilang
7 Qudrat Berkuasa 'Ajzun Lemah
8 Iradat Berkehendak Karahah Terpaksa
9 Ilmu Mengetahui Jahlun Bodoh
10 Hayat Hidup Mautun Mati
11 Sama’ Mendengar Summum Tuli
12 Basar Melihat Umyun Buta
13 Kalam Berkata Bukmun Bisu
14 Qadiran Yang Berkuasa 'Ajizan Yang maha lemah
15 Muridan Yang Berkehendak Mukrahan Yang maha terpaksa
16 'Aliman Yang Mengetahui Jahilan Yang maha bodoh
17 Hayyan Yang Hidup Mayyitan Yang mati
18 Sami'an Yang Mendengar Ashamman Yang maha tuli
19 Basiran Yang Melihat A'maan Yang maha buta
20 Mutakalliman Yang Berbicara Abkhaman Yang maha bisu



B. Asmaul Husna
Asmaul husna artinya nama-nama Allah yang baik, karena dari sudut maknanya, dalam nama-nama tersebut tersembunyi sejumlah sifat yang mencerminkan kualitas kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan Allah.


Artinya: “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang Telah mereka kerjakan”. (QS. Al-A’raf [7]: 180)

C. Sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna
1. Al-Awwal (Maha Permulaan) = Qidam (Terdahulu)
2. Al-Baqi (Maha Kekal) = Baqa’ (Kekal)
3. Al-Qayyum (Maha Berdiri Sendiri) = Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri)
4. Al-Wahid (Maha Tunggal) = Wahdaniyat (Tunggal)
5. Al-Muqtadir (Maha Kuasa) = Qudrat (Kuasa)
6. Al-Malik (Maha Raja) = Iradat (Berkehendak)
7. Al-‘Alim (Maha Mengetahui) = ‘Ilmu (Mengetahui)
8. Al-Hayy (Maha Hidup) = Hayat (Hidup)
9. As-Sami’ (Maha Mendengar) = Sama’ (Mendengar)
10. Al-Basir (Maha Melihat) = Basar (Melihat)
D. Fungsi Beriman kepada Allah swt
1. Menyadari kelemahan kita dihadapan Allah Yang Maha Besar sehingga kita tidak akan bersikap sombong
2. Menyadari diri kita pasti akan mati dan akan dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatan yang kita lakukan
3. Menyadari sepenuhnya bahwa segala sesuatu yang kita nikmati dalam hidup ini berasal dari Allah swt
4. Merasakan bahwa diri kita senantiasa dilihat oleh Allah swt
5. Menyadari dan segera bertobat apabila melakukan kesalahan dan dosa






LATIHAN
A. Pilih salah satu jawaban yang tepat dari pernyataan di bawah ini!
1. Rasulullah SAW bersabda, “berpikirlah kamu tentang semua makhluk Allah tetapi janganlah kamu memikirkan ….”
a. kekuasaan Allah d. dzat Allah
b. ciptaan Allah e. rahimnya Allah
c. rahmannya Allah
2. Allah SWT sebagai pencipta alam semesta beserta isinya secara logika sudah tentu wajib bersifat ..
a. sama’ d. wahdaniyah
b. bashar e. qidam
c. qiyamuhu binafsihi
3. Dalil naqli bahwa Allah itu wajib bersifat wujud antara lain terdapat dalam Al Qur’an surat Al An’am ayat …
a. 99 d. 102
b. 100 e. 103
c. 101
4. Kuasanya Allah itu dengan memperhatikan tumbuhan “murbei”, hasil pengamatan kekuasaan Allah dari imam …
a. Ahmad d. Maliki
b. Hambali e. Hanafi
c. Syafi’i
5. Perhatikan pernyataan-pernyataan berkut!
1. Tidak ada Tuhan selain Allah
2. Allah SWT pencipta segala sesuatu
3. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
4. Perintah beribadah hanya kepada Allah
5. Allah SWT pemelihara segala sesuatu
Yang merupakan maksud kandungan fiman Allah SWT (QS. Al-An’am [6]: 102)
ذ لِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لاَ اِلهَ اِلاَّ هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وً هُوَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلَ
Adalah …
a. 1, 2, 3 d. 1, 2, 4, 5
b. 2, 3, 4 e. 1, 2, 3, 4, 5
c. 3, 4, 5
6. Yang termasuk sifat salbiyah bagi Allah SWT adalah…
a. Wadaniyah d. Ilmu
b. Iradah e. Kalam
c. Sama’
7. Keyakinan bahwa Allah SWT itu Al Hasib (Maha Menjamin) hendaknya mendorong seorang mukmin untuk …
a. berserah diri pada nasib d. berbicara yang perlu-perlu saja
b. tidak berputus asa dan terus berusaha e. selalu bermusyawarah dalam setiap masalah
c. bersikap sederhana dalam kehidupan
8. Allah wajib bersifat qidam dan mustahil bersifat …
a. baqa’ d. adam
b. fana e. wujud
c. hudus
9. قَلِيْلاً Arti dari potongan ayat tersebut adalah…
a. panjang d. banyak
b. pendek e. tinggi
c. sedikit
10. Allah mustahil bersifat ‘ajzu dan wajib bersifat …
a. wahdaniyah d. iradat
b. baqa’ e. fana
c. qudrat

11. Seorang laki-laki yang percaya/beriman kepada Allah swt disebut ….
a. Muslim d. Mukminat
b. Muslimat e. Muslihin
c. Mukmin
12. Tandanya seorang benar imannya kepada Allah swt…
a. giat menuntut ilmu d. meyakini akan kebesaran-Nya
b. tunduk dan patuh kepada-Nya e. meyakini semua ciptaan-Nya
c. giat bekerja
13. Beriman kepada Allah swt, dapat diartikan mengakui adanya Allah swt dan semua sifat-sifat….
a. kekuasaan-Nya d. Keadilan-Nya
b. kesempurnaan-Nya e. Kehaliman-Nya
c. kebesaran-Nya
14. Sifat Allah yang wajib diyakini oleh setiap mukmin sebanyak….
a. 11 sifat d. 14 sifat
b. 12 sifat e. 15 sifat
c. 13 sifat
15. Seorang selalu malu saat akan mengerjakan perbuatan maksiat, karena ia yakin bahwa perbuatannya itu dilihat Allah, Allah bersifat….
a. baqa d. qudrat
b. sama’ e. iradat
c. bashar
16. Sifat yang mustahil bagi Allah swt, ialah yang …. bagi Allah swt.
a. harus ada d. tidak boleh tidak
b. tidak mungkin e. mungkin ada
c. boleh ada
17. Alam semesta yang indah tertata rapi merupakan dalil aqli bahwa ….
a. Allah swt ada d. Allah swt melihat
b. Allah swt kekal abadi e. Allah swt mengetahui
c. Allah swt mendengar
18. Allah swt Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan diterangkan dalam Al Qur an….
a. surat Al Asr d. surat Al Mulk
b. surat Al Kautsar e. surat Al Hasyar
c. surat Al Ikhlas

19. Ayat (QS. Al-Hujurat [49]: 18) di atas menjadi dalil naqli bahwa Allah swt bersifat…
a. wahdaniyah d. bashar
b. qidam e. kalam
c. iradat
20. Allah selalu memperhatikan setiap perbuatan manusia yang baik dan yang buruk karena Allah swt bersifat….
a. sama’ d. bashar
b. qudrat e. kalam
c. iradat

B. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat dan benar!
1. Sebutkan tiga sifat wajib bagi Allah SWT!
2. Sebutkan tiga sifat mustahil bagi Allah SWT!
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan “asmaul husna”!
4. Jelaskan fungsi iman kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari!
5. Ada berapakah asmaul husna itu? Coba kamu sebutkan sebanyak-banyaknya!
6. Tunjukkan dalil Aqli tentang wujud Allah SWT!
7. Apa yang dimaksud dengan iman? Jelaskan!
8. Apa yang dimaksud dengan beriman kepada Allah SWT?
9. Apa saja yang menjadi bukti bahwa Allah Maha Kuasa? Coba kamu tuliskan!
10. Pantaskah orang yang berilmu tinggi bersikap sombong? Apa alasannya?



0 komentar:

Poskan Komentar

 
 

Designed By Blogs Gone Wild!